ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID

Authors

  • Mareta Rindang Andarsari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
  • Nadhifa Hanunnisa Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
  • Kristanti Lestari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
  • Aminatush Sholichah Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
  • Dinda Monika Nusantara Ratri Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
  • Tri Pudy Asmarawati Rumah Sakit Universitas Airlangga. Surabaya, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.52689/higea.v16i1.584

Keywords:

Cost Effectiveness Analysis (CEA), Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER), Demam Tifoid, Antibiotik

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang salah satu pengobatannya dengan diberikan terapi antibiotik. Untuk mencapai keberhasilan terapi adalah dengan melakukan pemilihan antibiotik. Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih antibiotik yaitu dengan melihat efektivitas biaya. Cara mengetahui antibiotik yang paling cost-effective adalah dengan cost-effectiveness analysis (CEA). Analisis ini dapat dihitung dengan nilai ACER (Average Cost-Effectiveness Ratio) yang dilihat dari biaya pengobatan langsung dan efektifitas terapi. Efektivitas terapi dapat dilihat dari data klinis dan laboratorium pasien meliputi suhu, nadi, RR dan leukosit pasien saat keluar dari rumah sakit. Hasil penelitian ini adalah nilai ACER kloramfenikol sebesar Rp1.700.501 (berdasarkan data suhu, nadi, dan RR) dan cefixime sebesar Rp. Rp2.335.650 (berdasarkan data suhu, nadi, RR dan leukosit) pada tahun 2020. Sedangkan cefixime memiliki nilai ACER pada tahun 2021 sebesar Rp4.852.897 (berdasarkan data suhu, nadi, dan RR) dan Rp5.349.785 (berdasarkan data suhu, nadi, RR dan leukosit). Kesimpulan dari penelitian ini adalah kloramfenikol dan sefiksim merupakan antibiotik yang cost-effective berdasarkan nilai ACER terendah untuk pasien rawat inap di Rumah Sakit Universitas Airlangga

Author Biographies

  • Mareta Rindang Andarsari, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

    Departemen Farmasi Klinis Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

  • Dinda Monika Nusantara Ratri, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
    Departemen Farmasi Klinis Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
  • Tri Pudy Asmarawati, Rumah Sakit Universitas Airlangga. Surabaya, Indonesia
    Departemen Penyakit Dalam

References

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2015). Antibakteri. Diakses dari http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri pada tanggal 20 November 2021.

Bhandari, Jenish et al. (2020). Typhoid Fever. Statpearl. Diakses dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557513/ pada tanggal 29 Juli 2022

BPJS Kesehatan. 2014. Perubahan Tarif INA-CBGs. Info BPJS Kesehatan, 8, 1–12.

Brayfield, A. ed. 2014. Martindale: The Complete Drug Reference, 38th ed., London: Pharmaceutical Press

Crescentiana Emy Dhurhania, A. N. (2020). Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia Vol. 3 No. 1 Juli 2016 32. Farmasi Dan Ilmu Kefarmasian Indonesia, 3(1), 32–38.

Crump, J. A. (2019). Progress in Typhoid Fever Epidemiology. Clinical Infectious Diseases, 68(Suppl 1), S4–S9. https://doi.org/10.1093/cid/ciy846

Published

2024-03-29

Issue

Section

Articles